Selasa, 09 November 2010

tugas pendidikan khusus

Pengertian tuna rungu
Tuna rungu adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak dapat menggunakan alat pendengaranya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa dampak terhadap kehidupannya secara kompleks.
Dalam pengertian lain, istilah tuna rungu digunakan untuk orang yang mengalami gangguan pendengaran yang mencakup tuli dan kurang dengar. Adapun perbedaan antara orang tuli dan orang yang kurang dengar, Orang tuli adalah orang yang mengalami kehilangan pendengaran (lebih dari 70 dB) yang mengakibatkan kesulitan dalam memproses informasi bahasa melalui pendengarannya sehingga ia tidak dapat memahami pembicaraan orang lain baik dengan memakai maupun tidak memakai alat bantu dengar. Orang yang kurang dengar adalah orang yang mengalami kehilangan pendengaran (sekitar 27 sampai 69 dB) yang biasanya dengan menggunakan alat bantu dengar, sisa pendengarannya memungkinkan untuk memproses informasi bahasa sehingga dapat memahami pembicaraan orang lain.
1.


Ada beberapa kemungkinan yang mungkin menjadi penyebab ketidakdengaran, sebelum seorang anak dilahirkan atau terjadi pada saat proses kelahiran atau terjadi setelah kelahiran.
Penyebab Sebelum kelahiran (pre-natal)

Ada kenyataan bahwa ketidakdengaran disebabkan karena suatu hal yang bersifat genetik (keturunan ). Ketulian dapat menurun di dalam keluarga-keluarga meskipun ayah ibunya tersebut tidak tuli. Bisa saja hal ini muncul dari asal keturunan kakek nenek atau moyang kita sebelumnya. Ibu yang sedang mengandung menderita keracunan darah atau Toxaminia, hal ini bisa mengakibatkan kerusakan pada plasenta yang mempengaruhi terhadap pertumbuhan janin. Jika hal tersebut menyerang syaraf atau alat-alat pendengaran maka anak tersebut akan lahir dalam keadaan tunarungu.

Penyebab setelah kelahiran (post natal)

Dilahirkan secara prematur dapat meningkatkan resiko menjadi tuli atau akan menjadi tuli. Bayi-bayi prematur lebih cenderung rentan terhadap infeksi yang dapat menyebabkan ketulian. Adakalanya ketulian dapat juga disebabkan oleh satu luka/benturan di kepala atau karena efek suara yang nyaring/keras yang terjadi satu kali atau terus menerus. Hal itu semua dapat menyebabkan kerusakan pada sistim pendengaran. Anak mengalami infeksi pada saat lahir atau kelahiran. Misalnya, anak terserang Herpes Implex, jika infeksi ini menyerang kelamin ibu dapat menular kepada anak saat dilahirkan. Penyakit kelamin dapat ditularkan melalui virus. Penyakit-penyakit yang ditularkan bisa menimbulkan infeksi dan dapat menyebabkan kerusakan pada alat-alat syaraf pendengaran.






Ketuna runguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

Berdasarkan tingkat kehilangan pendengaran, ketuna runguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Tuna rungu Ringan (Mild Hearing Loss)
0 db :
Menunjukan pendengaran yang optimal
0 – 26 db :
Menunjukan seseorang masih mempunyai pendengaran yang optimal
27 – 40 db :
Mempunyai kesulitan mendengar bunyi – bunyi yang jauh, membutuhkan tempat duduk yang strategis letaknya dan memerlukan terapi bicara .

2. Tuna rungu Sedang (Moderate Hearing Loss).
41 – 55 db :
Mengerti bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas, membutuhkan alat bantu dengar dan terapi bicara

3. Tuna rungu Agak Berat (Moderately Severe Hearing Loss)
56 – 70 db :
Hanya bisa mendengar suara dari jarak yang dekat, masih punya sisa pendengaran untuk belajar bahasa dan bicara dengan menggunakan alat Bantu dengar serta dengan cara yang khusus

4. Tuna rungu Berat (Severe Hearing Loss)
71 – 90 db :
Hanya bisa mendengar bunyi yang sangat dekat, kadang – kadang dianggap tuli, membutuhkan pendidikan khusus yang intensif, membutuhkan alat Bantu dengar dan latihan bicara secara khusus

5. Tuna rungu Berat Sekali (Profound Hearing Loss)
91 db :
Mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak bergantung pada penglihatan dari pada pendengaran untuki proses menerima informasi dan yang bersangkutan diangap tuli

Berdasarkan saat terjadinya, ketuna runguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Ketuna runguan Prabahasa (Prelingual Deafness)
2. Ketuna runguan Pasca Bahasa (Post Lingual Deafness)

Berdasarkan letak gangguan pendengaran secara anatomis, ketunarunguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Tuna rungu Tipe Konduktif
Kerusakan yang terjadi pada telinga luar
tidak terbentuknya lubang telinga bagian luar (atresia meatus akustikus externus), dan terjadinya peradangan pada lubang telinga luar (otitis externa).
Kerusakan/gangguan yang terjadi pada telinga tengah
dapat disebabkan antara lain karena adanya tekanan/benturan yang keras pada telinga seperti karena jatuh tabrakan, tertusuk, dan sebagainya.
2. Tuna rungu Tipe Sensorineural
Penyebab Terjadinya Tunarungu Tipe Sensorineural disebabkan oleh faktor genetik (keturunan), dan faktor non genetik antara lain: Rubena (Campak Jerman), Ketidaksesuaian antara darah ibu dan anak, Meningitis (radang selaput otak )
3. Tuna rungu Tipe Campuran
Berdasarkan etiologi atau asal usulnya ketuna runguan diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Tuna rungu Endogen
2. Tuna rungu Eksogen

Karakteristik Anak Tunarungu

1. Karakteristik dari segi inteligensi
Pada umumnya anak tunarungu memiliki inteligensi normal atau rata-rata akan tetapi, semua perkembangan inteligensi juga dipengaruhi oleh perkembangan bahasa , maka tampaknya inteligensinya rendah disebabkan karena kesulitan dalam memahami bahasa. Perkembangan inteligensi anak tunarungu tidak sama cepatnya dengan mereka mendengar, karena dengan pendengaran ini lah yang dapat membuat mereka berfikir.
Rendahnya inteligensi anak tunarungu bukan disebabkan IQ potensialnya yang tidak berkembang, tetapi fungsinya kurang memperoleh kesempatan untuk berkembang. Aspek inteligensi yang terhambat hanya yang bersifat verbal, misalnya dalam memberikan makna, menarik kesimpulan dan meramalkan suatu kejadian.

2. Karakteristik dalam segi bahasa dan bicara
Perkembangan bahasa bicara anak tunarungu sampai saat meraban , tidak mengalami hambatan, karena merapan merupakan kegiatan alami, dalam upaya melatih pernapasan dan pita suara
Bahasa bagi anak tunarungu adalah merupakan alat berfikir dan sarana utama seseorang untuk berkomunikasi. Maka melalui mendengar mereka dilatih dan didik secara khusus. Dengan melalui latihan maka bahasa bicaranya diharapkan dapat berkembang. Kita memahami dengan ketidak mampuannya berbahasa dan bicara dibandingkan dengan anak normal sebayanya akan tampak mereka lebih tertinggal. Hal ini dapat disadari bahwa anak tunarungu walaupun sudah didik secara khusus banyak diantara mereka yang tetap ketinggalan 2 sampai 4 tahun dalam kemampuan membaca dan menulis jika hal ini kita banding dengan anak yang mendengar. Untuk kita mengharapkan dalam pengembangan komunikasi perlu tenaga pendidik dan bimbingan yang professional.

3. Karakteristik dalam segi emosi dan sosial
a. Pergaulan terbatas dengan sesama tunarungu, sebagai akibat dari keterbatasan dalam kemampuan berkomunikasi.
b. Sifat ego-sentris yang melebihi anak normal, yang ditunjukkan dengan sukarnya mereka menempatkan diri pada situasi berpikir dan perasaan orang lain, sukarnya menye-suaikan diri, serta tindakannya lebih terpusat pada "aku/ego", sehingga kalau ada keinginan, harus selalu dipenuhi.
c. Perasaan takut (khawatir) terhadap lingkungan sekitar, yang menyebabkan ia tergantung pada orang lain serta kurang percaya diri.
d. Perhatian anak tunarungu sukar dialihkan, apabila ia sudah menyenangi suatu benda atau pekerjaan tertentu.
e. Memiliki sifat polos, serta perasaannya umumnya dalam keadaan ekstrim tanpa banyak nuansa.
f. Cepat marah dan mudah tersinggung, sebagai akibat seringnya mengalami kekecewaan karena sulitnya menyampaikan perasaan/keinginannya secara lisan ataupun dalam memahami pembicaraan orang lain.

4. Egosentrisme yang melebihi anak normal
Daerah pengamatan anak tunarungu lebih kecil jika dibandingkan dengan anak yang mendengar, mereka hanya mampu menangkap dan memasukan sebagian kecil dunia luar ke dalam dirinya. Jadi makin sempit perhatiannya, dunia di luar hidupnya semakin menutup dan mempersempit kesadaran.
Bagi anak yang masih mempunyai sisa pendengaran, dan jika alat bantu pendengarannya dipakai sejak kecil maka akan dapat membantu memfungsikan sisa pendengaran yang ada. Sehingga didalam menepuh hidupnya dapat terjalin komunikasi dan interaksi sosial dengan masyrakat dilingkungannya.

5. Karakteristik dalam aspek fisik dan kesehatan
Pada umumnya aspek fisik anak tunarungu tidak banyak mengalami hambatan. Namun pada sebagian tunarungu ada yang mengalami gangguan keseimbangan sehingga cara berjalannya kaku dan agak membungkuk. Gerakan mata anak tunarungu lebih cepat, hal ini menunjukkan bahwa ia ingin menangkap atau mengetahui keadaan lingkungan sekitarnya. Gerakkan tangannya sangat lincah, hal tersebut tampak ketika ia mengadakan komunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat dengan sesama tunarungu. Pernapasannya pendek karena tidak terlatih melalui kegiatan berbicara.
Dalam aspek kesehatan, secara umum tampaknya sama dengan anak lain karena pada umumnya anak tunarungu mampu merawat diri sendiri. Namun bagi anak tunarungu penting untuk memeriksakan kesehatan telinganya secara periodik agar terhindar dari hal-hal yang dapat memperberat ketunarunguannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar